Perjalanan Baru di 2026
Di post Instagram, saya sempat sedikit memperkenalkan AN Consulting sebagai layanan research dan consulting yang sedang saya bangun bersama partner. Tapi rasanya belum lengkap kalau belum bercerita lebih personal dari sudut pandang saya sebagai founder.
Sejujurnya, keinginan untuk menjadi konsultan dan punya bisnis consulting sendiri sudah lama ada di kepala saya. Itu juga salah satu alasan terbesar saya memutuskan mengambil S2. Saya ingin belajar lebih dalam tentang riset, tentang marketing, tentang bagaimana membuat keputusan yang benar-benar berbasis data dan analisis. Saya ingin suatu hari bisa berdiri sebagai konsultan yang tidak hanya mengandalkan pengalaman lapangan, tapi juga punya landasan ilmu yang kuat.
Tapi saya tidak pernah menyangka bahwa semuanya akan berjalan secepat ini. Di bayangan saya, mungkin baru mulai beberapa tahun lagi. Ternyata di penghujung 2025, justru ada jalan terbuka yang sama sekali tidak saya rencanakan sebelumnya. Tahun 2026 benar-benar jadi titik balik besar dalam karir saya.
Semua bermula di bulan Juli 2025
Waktu itu saya dihubungi seorang kenalan. Dia bertanya tentang strategi marketing di kantornya dan membutuhkan konsultan untuk membantu merapikan arahnya. Scope pekerjaannya jelas, tantangannya menarik, dan jujur itu benar-benar pekerjaan yang sangat saya sukai. Ada element research, audit, dan fokus pada perbaikan juga strategi jangka panjang.
Begitu penawaran itu datang, saya langsung merasa sangat tertarik. Tapi di saat yang sama saya sadar, pekerjaan seperti ini tidak mungkin saya kerjakan sendirian.
Beberapa hari setelah itu, saya langsung menghubungi seorang teman kantor. Di kepala saya saat itu, entah bagaimana muncul satu nama dia. Kami sudah kenal sejak tahun 2020, memang sering berdiskusi, sering ngobrol panjang tentang pekerjaan kantor, soal banyak hal, tapi belum pernah benar-benar bekerja bersama secara intens.
Saya jelaskan secara singkat tentang project itu. Belum sampai lima menit saya bicara, dia langsung menjawab singkat, “Gas. Oke!”
Dari satu project kecil itulah semuanya bermula. Awalnya project kami benar-benar hanya satu, yaitu membantu sebuah Lembaga Psikologi. Tidak lebih dari itu. Di kepala kami waktu itu, ini hanya pekerjaan sampingan saja. Partner saya pun awalnya belum terpikir ke arah apa-apa. Tujuannya sederhana. Menyelesaikan project, mendapat pengalaman baru, ada tambahan pemasukan, lalu selesai. Begitu juga dengan saya. Tidak ada mimpi besar. Tidak ada rencana panjang apalagi kerjasama yang kompleks.
“Kita vibing aja dulu,” begitu katanya waktu itu, saat saya mulai berpikir untuk membuat beberapa hal baru.
Ternyata, dari satu project itu, banyak hal lain justru bermunculan. Pintu-pintu baru mulai terbuka. Client lain berdatangan. Scope pekerjaan makin berkembang. Tanpa benar-benar kami rencanakan, pekerjaan consulting yang awalnya hanya sampingan pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang lebih serius. Saya saat itu hanya sekedar menerima, menjalani, dan mencoba menghadapi berbagai peluang yang ada saja. Tidak lebih. Tapi pikiran pun terbuka luas, banyak peluang yang saya rasa bisa dioptimalkan.
Di titik itu saya mulai sadar. Lama-kelamaan pekerjaan ini bukan lagi sekadar project. Ada jiwa saya di sini. Saya menemukan diri saya di sini.
Sejak 2020-2025 saya menjadi seorang Lecturer & Mentor Digital Marketing di salah satu Bootcamp terbesar di Indonesia. Saya menikmati sekali bekerja menjadi pengajar dan juga manajemen Akademik di sini. 5 tahun berlalu, terutama setelah banyak menimba ilmu dan mengembangkan diri, saya merasa ada hal lain yang bisa saya kembangkan. Sifatnya long term dan berkaitan dengan passion, minat, potensi, dan juga multiple effect lainnya dalam hidup.
Pasca selesai S2, saya semakin menyadari. Selain mengajar dan menjadi praktisi, saya memang sangat senang di bidang riset dan penelitian. Saya sangat suka membaca, menulis, membuat ide-ide pemikiran, membaca jurnal ilmiah, dan berdiskusi tentang hal tersebut. Ada banyak sekali hal yang akhirnya bisa saya terapkan di sini. Semua yang saya pelajari di S2, semua pengalaman 13 tahun saya di dunia marketing, rasanya menemukan wadah yang tepat sejak saat merintis menjadi seorang konsultan.
Saya menikmati prosesnya, menikmati diskusinya, dan menikmati berpikir strategis untuk membantu brand. Ditambah lagi jika brand tersebut terbantu dan merasa senang dengan hasil riset dan rekomendasi kami, rasanya berkali lipat kebermaknaannya.
September 2025 hampir berakhir.
Di bulan September 2025, saya akhirnya mulai berpikir serius tentang arah hidup saya. Keinginan untuk resign dari kantor sebelumnya mulai semakin kuat, walaupun rasanya berat untuk pergi dari tempat yang sudah membesarkan saya dan saya belajar banyak di dalamnya. Tapi tentu keputusan sebesar itu tidak bisa saya ambil sendirian.
Saya banyak berdiskusi dengan suami. Saya ceritakan semua kegelisahan saya. Tentang project yang mulai berkembang, tentang mimpi saya di dunia consulting, tentang keinginan saya menjadi “seseorang di bidang marketing”, tentang keinginan saya fokus di bidang research dan sekaligus mempersiapkan studi doktoral.
Saya juga jujur menyampaikan ketakutan saya. Bagaimana kalau nanti tidak stabil? Bagaimana kalau pemasukan tidak pasti? Bagaimana kalau keputusan ini terlalu berisiko?
Di luar dugaan saya, suami justru jadi orang yang paling menenangkan.Dia bilang sederhana, “Kalau ini memang yang kamu suka dan kamu yakini, jalani saja. Aku dukung.” Dukungan itu yang akhirnya menguatkan saya. Dengan restu dan dukungannya, saya benar-benar mantap memutuskan resign. Memilih keluar dari zona nyaman, dan fokus penuh di bidang research dan consulting. Juga mempersiapkan diri untuk lanjut studi doktoral, agar keilmuan saya semakin kuat dan terasah.
Keputusan itu tentu tidak mudah. Ada rasa takut, ragu, dan banyak pertanyaan di kepala.Tapi entah bagaimana pada akhirnya keputusan saya pun bulat. Tekad saya kuat dan yakin dalam diri. Saya sampaikan keputusan besar itu kepada partner saya juga. Entah bagaimana apa yang ada dalam pandangannya, tapi saya rasa itu hal baik ditambah lagi project yang berjalan untuk client yang mulai berdatangan cukup menyita waktu. Ada baiknya di antara kami harus ada yang fokus dan memang full memikirkan ini semua.
Dari diskusi panjang itulah akhirnya kami sama-sama sepakat untuk membangun AN Consulting dengan lebih serius. Bukan lagi sekadar project bersama, tapi benar-benar sebuah bisnis yang ingin kami kembangkan jangka panjang. Tujuannya bukan hanya soal materi, tapi untuk menampung semua keinginan kami, menerapkan ilmu yang kami punya, membangun sesuatu yang kami percaya agar kebaikannya juga berdampak untuk keluarga masing-masing juga sebagai bekal di masa depan.
Tentu di balik semua keputusan itu, ada banyak perasaan campur aduk. Saya sempat khawatir. Takut. Was-was. Apakah ini akan bertahan lama? Apakah saya punya partner yang tepat? Apakah saya tepat untuk partner saya. Karena pada dasarnya ini akan menjadi project panjang dan menjadi rekan bisnis yang juga panjang. Bukan hanya sekedar project dan menyelesaikannya, tetapi juga berbagi resources, berbagi energi, waktu, dan pemahaman yang balance. Pertanyaan tersebut terjawab dengan proses dan waktu. Saya pun sadari pertanyaan seperti itu memang wajar, namun tidak harus dilanjutkan menjadi energi yang negatif. Proses yang justru menunjukkan segalanya.
Perlahan, arahnya mulai terlihat
Di waktu yang sama, sebenarnya partner saya sedang mempersiapkan rencana besar lain, yaitu mencoba beasiswa S3 di Singapura. Dia memang sudah lama punya rencana untuk melanjutkan studi doktoral. Bulan demi bulan tes dijalani, tapi ternyata belum rezeki untuk lolos mendapatkan scholarship.
Saya pun sebenarnya punya rencana yang mirip. Saya juga ingin melanjutkan studi doktoral, hanya saja saya masih mempertimbangkan untuk tetap di dalam negeri karena faktor keluarga dan karir suami saya yang masih harus stay di Indonesia. Ditambah lagi, persiapan saya menuju studi doktoral nampaknya memakan waktu cukup banyak serta butuh persiapan yang matang.
Dari situ kami banyak berdiskusi. Kami sama-sama sadar bahwa studi S3 bukan hal mudah. Butuh fokus besar, waktu yang tidak sedikit, dan energi yang sangat banyak. Rasanya hampir tidak mungkin membagi fokus antara pekerjaan full time, mengerjakan project consulting, membangun bisnis baru, sekaligus kuliah S3. Kalau dipaksakan, yang ada mungkin bukan semuanya berhasil, tapi justru semuanya berantakan. Tujuan itu, sebaiknya bisa kita kolaborasikan bersama termasuk dengan adanya research & consulting yang kami kerjakan. Walau bagaimanapun studi doktoral bukan hanya sekedar belajar, tapi juga harus mampu membuat satu hal baru untuk sumbangsih penelitian.
Dari diskusi-diskusi itulah akhirnya AN Consulting benar-benar mulai dibangun dengan lebih serius. Bukan sekadar project sampingan, kerja tambahan, tapi sesuatu yang ingin kami kembangkan jangka panjang. Sesuatu yang kami percaya bisa jadi wadah untuk menerapkan semua ilmu, pengalaman, dan cara berpikir yang selama ini kami pegang.
Kami ingin AN Consulting menjadi tempat di mana brand tidak hanya dibantu menjalankan aktivitas marketing, tapi benar-benar dibantu berpikir lebih jernih, lebih strategis, dan lebih terarah. Teori, framework, proses riset, mindset ataupun pandangan marketing dan bisnis yang sudah kami pelajari lewat jalur akademik ataupun praktis, nampaknya akan sia-sia jika tidak diimplementasikan untuk membantu banyak pihak.
Perjalanannya tentu masih sangat panjang. Tapi kalau melihat ke belakang, saya selalu merasa bersyukur. Dari satu obrolan singkat di sore hari, dari satu project kecil, dari satu keputusan sederhana, lahirlah sesuatu yang sekarang sedang saya jalani dengan sepenuh hati, berharap menjadi sesuatu yang besar dan berdampak luas.
Pelajaran Berharga Tentang Memulai Bisnis
Di proses ini saya belajar satu hal penting.
Membangun bisnis ternyata tidak selalu soal modal uang. Banyak orang mengira, untuk memulai sesuatu yang besar kita harus punya dana besar dulu. Padahal, yang saya rasakan justru sebaliknya.
Modal utama saya bukan materi. Modal terbesar saya adalah pengalaman yang saya kumpulkan bertahun-tahun, pengalaman 13 tahun di dunia marketing, dan cara berpikir yang terbentuk lewat proses belajar baik saat kuliah, ataupun pendidikan informal lainnya. Semua itu menjadi sumber daya paling berharga ketika mulai merintis AN Consulting.
Saya menyadari, selama kita punya pemikiran yang jelas, kemampuan menganalisis, dan keberanian menawarkan solusi, sebenarnya kita sudah memiliki fondasi untuk memulai.
Selain itu, saya juga belajar bahwa bisnis tidak bisa dibangun sendirian.
Partner yang sejalan, sefrekuensi, memiliki energi yang imbang, dan punya visi yang sama adalah modal yang tidak ternilai. Banyak hal di perjalanan ini yang mungkin tidak akan berjalan kalau saya tidak bertemu dengan partner yang tepat, yang bisa saling melengkapi dan saling menguatkan.
Dan terakhir, yang paling menentukan adalah keberanian. Keberanian untuk memulai. Keberanian untuk mengambil keputusan.Keberanian untuk melangkah maju meski belum tahu hasil akhirnya.
Tanpa tiga hal itu, AN Consulting mungkin hanya akan berhenti sebagai ide di kepala saya saja.
Tapi dari awal perjalanan ini saya belajar satu hal penting. Bahwa sesuatu yang dijalankan dengan passion, fokus, dan keseriusan, perlahan bisa berjalan dengan baik, bertumbuh pada dampak yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Sejak tulisan ini dibuat, kurang lebih sudah 3 bulan saya menjalani AN Consulting. Rasanya bukan seperti bekerja, tak ingin ada cuti, tak ingin ada libur, untuk bisa mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membesarkannya seperti anak sendiri.
